Introducing San Francisco

Sunday, November 30, 2014

Ayat-ayat Al- quran untuk ubati penyakit strok akibat perbuatan Shihir



Ayat ruqyah: Untuk Mengubati Sihir –( lumpuh/strok)
Tanda-tanda penyakit lumpuh/strok
  1. Rasa sakit pada salah satu anggota tubuh
  2. Kaku Syaraf
  3. Kelumpuhan pada salah satu anggota badan
  4. Lumpuh total
  5. Salah satu panca indra tidak berfungsi
Tanda-tanda  penyakit disebabkan perbuatan sihir, keadaan sakitnya hampir sama  dengan penyakit lumpuh biasa, kadangkala ianya tidak dapat dibeakan secara mata kasar, hanya satu keadah untuk membezakannya ialah dengan membaca ayat-ayat ruqyah padanya, apabila pada saat mendengar ayat tersebut pesakit  merasa keluh-kesah, pening, menggigil atau berbagai tanda hasil pekerjaan sihir, maka ianya sahlah sudah terkena sihir. Jika tidak terdapat tanda-tanda sedemikian maka itu adalah penyakit lumpuh yang biasa.

Bagaimana terjadinya penyakit disebabkan sihir?
Sebagaimana yang sudah sedia maklum dalam ilmu biologi, bahwa otak adalah pusat saraf dan pengawal utama terhadap segala panca indra dan sistem tubuh. Misalnya, apabila anda mendekatkan jari ke api, maka jari tersebut akan mengirim isyarat ke pusat kawalan panca indra di otak mengeluarkan perintah untuk segera menjauhi pusat bahaya, maka tangan pun segera menjauh dari api tersebut, semua itu terjadi dalam waktu yang amat pantas dan memang demikianlah hebatnya ciptaan dan kekuasaan  Allah SWT.

“ Beginilah makhluk ciptaan Allah, maka perlihatkan padaku apakah yang mampu diciptakan oleh para sesembahan selain Dia (QS. Luqman:11)

Apabila seseorang terkena penyakit kerana di sihir, maka jin akan memusatkan kegiatannya pada anggota badan atau pusat saraf tertentu sesuai dengan perintah tukang sihir. Kadangkala ia memusatkan diri pada pusat pendengaran, penglihatan, perasa, tangan atau kaki. Pada kedan seperti ini, keadaan anggota tubuh berada dalam tiga kemungkinan:
  1. Jin menahan perintah saraf suatu anggota badan secara keseluruhan, sehingga anggota tersebut tidak berfungsi sama sekali, maka orang yang kena sihir dapat menjadi buta, bisu, tuli, atau lumpuh salah satu anggota tubuhnya.
  2. Jin menahan perintah sarat terhadap suatu anggota badan pada waktu tertentu dan membiarkannya pada waktu tertentu. Bila keadaan seperti ini, fungsi anggota penderita akan terhalang secara tidak terus-menerus.
  3. Jin menjadikan pusat saraf memberikan banyak perintah secara cepat dan berturut-turut tanpa ada sebab tertentu, maka anggota badan akan kaku dan tidak dapat bergerak, jika tidak lumpuh.’
Dalam sebuah proses sihir, perlu kita ingat bahwa Allah SWT telah berfirman maksudnya:
“ Sedangkan mereka ahli sihir itu tidak akan mempu memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah (QS. al-Baqar

Pengubatan  penyakit Lumpuh/stroke karena gangguan Jin/ sihir.
Secara umum pengubatannya adalah:

Bacakanlah pada si penderita ruqyah syar’i  (lihat bacaan ruqyah pada Al Qur’an dan Al Hadits sahih). Jika kesurupan sewaktu di ruqyah, maka jin yang ditugasi untuk menyihir akan berbicara melalui lidahnya maka jin tersebut harus dikalahkan.
  
Jika tidak kesurupan tetapi dia merasakan adanya beberapa perubahan ringan, maka terapkanlah beberapa hal berikut ini:
 
1. Rakamkan di satu kaset beberapa surat Al-Qur’an, yaitu Al-Fatihah, ayat Kursi, ad-Dukhaan, al-Jinn, surat-surat pendek, dan al-Mu’awwidzaat (al-Ikhlash, Al Falaq dan An Nas). Hendaklah dia mendengarkan kaset ini tiga kali sehari.

2. Bacakanlah ruqyah pada minyak jintan hitam dan disapu di dahi pesakit sampai ke tengkuk. dan bahagian yang sakit ( bahagian yang lumpuh dan sepanjang tulang punggung) pada waktu pagi dan petang. Bacaan ruqyah yang dimaksud disini diantaranya adalah Al-Faatihah, Al-Mu’awwidzaat 

(al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas), Ayat 82 surat Al-Israa’ ( ayat 21-22) dan beberapa bacaan doa.
بِسْمِ اللهِ الَّذِ يْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْ ءٌ فِي ْالأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَا ءِ وَهُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ (3×)
“Dengan  nama  Allah Yang  kerana  bersama nama-Nya tidak ada sesuatu apapun dilangit atau di bumi mampu mendatangkan  bahaya, dan Dialah Maha Mendengar  lagi Maha Mengetahui.”
نَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللهِ التَّا مَّا تِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (3×)
“Kami berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang  sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan” 3 x.

اَلَّلهُمَّ إِنَّا نَعُوْ ذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِ كَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ ِلمَالاَ نَعْلَمُهُ (3×)
“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan sesuatu yang kami tahu  dengan-Mu, dan kami mohon  ampunan kepada-Mu terhadap  yang kami tidak mengetahui.”
نَسْأَلُ اللهَ اْلعَظِيْمَ رَبَّ اْلعَرْ شِ اْلعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكُمْ (7×)  
“Kami memohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik  singgahsana yang agung, semoga  Dia menyembuhkan  kamu sekalian.”
بِسْمِ اللهِ نَرْ قِيْكُمْ وَ اللهُ يَشْفِيْكُمْ مِنْ كُلِّ دَاءٍيُؤْذِيْكُمْ،وَمِنْ شَرِّحَا سِدٍ إِذَاحَسَدَ وَمِنْ شَرِّكُلِّ ذِ يْ عَيْنٍ،اللهُ يَشْفِيْكُمْ(3×)
 “Dengan nama Allah, kami menjampi  kamu dan semoga Allah menyembuhkan kamu sekalian dari segala penyakit yang mengganggu kamu sekalian dan dari kejahatan  setiap pendengki ketika  ia dengki, dan dari kejahatan  setiap pemilik  pandangan mata yang berbahaya, semoga Allah menyembuhkan kamu sekalian.”
اَللَّهُمَّ أَذْهِبِ اْلبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ وَ أَنْتَ ا لشَّا فِيْ لاَ شِفَاءَ إِلاَّشِفَا ؤُكَ شِفَاءَإِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءًلاَ يُغَادِرُسَقَمًا(3×)
 “Ya Allah, hilangkan penyakit ini, wahai Penguasa seluruh  manusia, sembuhkanlah ! Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan  kecuali kesembuhan dari-Mu,  sembuhkanlah dengan kesembuhan  sempurna tanpa meninggalkan  rasa sakit.”
بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ،نَعُوْذُ بِعِزَّةِاللهِ وَ قُدْ رَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا نَجِدُوَنُحَاذِرُ(7×)
“Dengan nama Allah, dengan Nama Allah, dengan nama Allah, kami berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan yang kau hadapi dan kami hindari”.
Semuanya ini berlangsung selama 60 hari, jika dalam waktu itu penyakitnya belum sembuh, maka yang demikian itu sudah cukup. Tetapi jika tidak sembuh juga, maka ruqyahlah sekali lagi, kemudian berikan arahan-arahan di atas untuk beberapa waktu yang menurut kita mencukupi dan sesuai untuk kesembuhan..
Pengubatan penyakit Lumpuh/stroke karena murni pecahnya pembuluh darah di Otak
Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.

Saya bukan ahlinya dalam menjelaskan secara tinjawan medis mengenai seluk-beluk stroke, kepada para pengunjung saya sarankan membaca rujukan-rukujan ilmu kedokteran. Dalam artikel ini saya hanya akan menjelaskan penyembuhan penyakit stroke (apapun jenisnya) dengan menggabungkan antara tekhnik ruqyah + herbal. 

Pemjabaran :
a. Ruqyah + buah manggis
untuk penyakit stoke, saya menyarankan agar pesakit/penderita mengkonsumsi buah manggis. Sebab buah manggis mengandung antioksidan yang sangat tinggi yang bisa membuang racun yang ada dalam tubuh maka dengan sendirinya penyumbatan pembuluh darah di jaringan otak dapat diatasi. Juga memperlebar pembuluh darah dan memeperlancar peredaran darah. manggis juga kaya akan mineral kalium yang membantu metabolisme energi pada penderita stoke sebab tubuh mampu menyerap 100% semua nutrisi.

Bacakanlah pada buah manggis yang sudah dibuka minimal dengan membaca surat Alfatihah 7x pada buah manggis. Setiap pagi,tengahari, petang dan malam hari makanlah 3 buah manggis yang sudah diruqyah.

b. Ruqyah + minyak habbatussauda cair

Habbatussauda adalah herbal ajaib yang banyak diceritakan pada berbagai hadits rasulullah sebagai obat dari segala macam penyakit termasuk dalam hal ini untuk mengobati stroke.

Bacakanlah ayat-ayat ruqyah (sama seperti ayat penyembuhan sihir lumpuh diatas) pada minyak habbatussauda lalu komsumsi 3 sendok minyak habbatussauda setiap pagi, siang, sore dan malam hari sebelum tidur.

c. Bekam
Proses bekam dapat mengeluarkan semua kotoran, sisa, dan endapan darah sehingga mendorong kembali aktifnya seluruh sistem dan organ tubuh yang dapat menyembuhkan penyakit stroke
Tekhnik bekam juga sesuai untuk stroke, disarankan bagi penderita stoke untuk berbekam seminggu sekal.

Penggabungan tekhnik.
herbal manggis dan habbarussauda boleh dimakan secara bersama, dan diharapkan pesakit stoke juga berbekam. Adapun ruqyah yang dapat dilakukan adalah dengan memegang kepala pesakit lalu membacakan ayat-ayat ruqyah (paling tidak surat al-fatihah 7 kali lalu dihembuskan dikepala) secara rutin setiap kali bangun dari tidur dan ketika hendak tidur pada waktu malam nanti, jaga keadaana fizikal dan psikooligi pesakit dari perkara-perkara yang dapat menyebabkan berulang terjadi stroke.
wallahuam


Sumber: Widjojo

THE MARRIAGE



An-Nikah -  “The Marriage “
Mutual Agreement of Bride and Groom

Marriage (nikah) is a solemn and sacred social contract between bride and groom. This contract is a strong covenant (mithaqun Ghalithun) as expressed in Quran 4:21). The marriage contract in Islam is not a sacrament. It is revocable.

Both parties mutually agree and enter into this contract. Both bride and groom have the liberty to define various terms and conditions of their liking and make them a part of this contract.

Mahr

The marriage-gift (Mahr) is a divine injunction. The giving of mahr to the bride by the groom is an essential part of the contract.

'And give the women (on marriage) their mahr as a (nikah) free gift" (Quran 4:4)

Mahr is a token commitment of the husband's responsibility and may be paid in cash, property or movable objects to the bride herself. The amount of mahr is not legally specified, however, moderation according to the existing social norm is recommended. The mahr may be paid immediately to the bride at the time of marriage, or deferred to a later date, or a combination of both. The deferred mahr however, falls due in case of death or divorce.

One matrimonial party expresses 'ijab" willing consent to enter into marriage and the other party expresses 'qubul" acceptance of the responsibility in the assembly of marriage ceremony. The contract is written and signed by the bride and the groom and their two respective witnesses. This written marriage contract ("Aqd-Nikah) is then announced publicly.

Sermon

The assembly of nikah is addressed with a marriage sermon (khutba-tun-nikah) by the Muslim officiating the marriage. In marriage societies, customarily, a state appointed Muslim judge (Qadi) officiates the nikah ceremony and keeps the record of the marriage contract. However any trust worthy practicing Muslim can conduct the nikah ceremony, as Islam does not advocate priesthood. The documents of marriage contract/certificate are filed with the mosque (masjid) and local government for record.

Prophet Muhammad (S) made it his tradition (sunnah) to have marriage sermon delivered in the assembly to solemnize the marriage. The sermon invites the bride and the groom, as well as the participating guests in the assembly to a life of piety, mutual love, kindness, and social responsibility.

The Khutbah-tun-Nikah begins with the praise of Allah. His help and guidance is sought. The Muslim confession of faith that 'There is none worthy of worship except Allah and Muhammad is His servant and messenger" is declared. The three Quranic verses (Quran 4:1, 3:102, 33:70-71) and one Prophetic saying (hadith) form the main text of the marriage. This hadith is:

'By Allah! Among all of you I am the most God-fearing, and among you all, I am the supermost to save myself from the wrath of Allah, yet my state is that I observe prayer and sleep too. I observe fast and suspend observing them; I marry woman also. And he who turns away from my Sunnah has no relation with me". (Bukhari)

The Muslim officiating the marriage ceremony concludes the ceremony with prayer (Dua) for bride, groom, their respective families, the local Muslim community, and the Muslim community at large (Ummah)

Marriage (nikah) is considered as an act of worship (ibadah). It is virtuous to conduct it in a Mosque keeping the ceremony simple. The marriage ceremony is a social as well as a religious activity. Islam advocates simplicity in ceremonies and celebrations.

Prophet Muhammad (S) considered simple weddings the best weddings:

'The best wedding is that upon which the least trouble and expense is bestowed". (Mishkat)

Primary Requirements
1) Mutual agreement (Ijab-O-Qubul) by the bride and the groom
2) Two adult and sane witnesses
3) Mahr (marriage-gift) to be paid by the groom to the bride either immediately (muajjal) or deferred (muakhkhar), or a combination of both

Secondary Requirements
1) Legal guardian (wakeel) representing the bride
2) Written marriage contract ("Aqd-Nikah) signed by the bride and the groom and witnesses by two adult and sane witnesses
3) Qadi (State appointed Muslim judge) or Ma'zoon (a responsible person officiating the marriage ceremony)
4) Khutba-tun-Nikah to solemnize the marriage

The Marriage Banquet (Walima)

After the consummation of the marriage, the groom holds a banquet called a walima. The relatives, neighbors, and friends are invited in order to make them aware of the marriage. Both rich and poor of the family and community are invited to the marriage feasts.

Prophet Muhammad (S) said:

'The worst of the feasts are those marriage feasts to which the rich are invited and the poor are left out". (Mishkat)

It is recommended that Muslims attend marriage ceremonies and marriage feasts upon invitation.

Prophet Muhammad (S) said:

"...and he who refuses to accept an invitation to a marriage feast, verily disobeys Allah and His Prophet". (Ahmad & Abu Dawood)



Source : Sound Vision.
by Mohammad Mazhar Hussaini


KEPENTINGAN KHUTBAH NIKAH SEBAGAI PANDUAN UNTUK LAYARI BAHTERA PERKAHWINAN:



Khutbah Nikah Jadi Panduan Layari  Bahtera Perkahwinan.

 “Ramai pasangan utamakan majlis mewah, kurang prihatin matlamat kahwin ikut syariat”

APABILA tiba musim cuti sekolah ramai yang mengambil kesempatan mengadakan majlis kenduri perkahwinan kerana pada musim cuti sebegini saudara mara dan sahabat handai mempunyai kelapangan memeriahkan hari bersejarah itu.

Ramai juga pasangan muda-mudi berdebar menghadapi saat penting upacara akad nikah. Debaran itu kadangkala menyebabkan mereka tidak boleh menjawab soalan naib kadi. Pertanyaan popular seperti rukun nikah pun sering hilang daripada ingatan. Pada majlis perkahwinan perlu kita membezakan adat dan ibadat. Dari kaca mata Islam, akad nikah lebih penting daripada kenduri kerana saat menjadi suami isteri ialah tatkala lafaz ijab dan kabul sempurna.

Ketika itu bermula layar bahtera perkahwinan suami isteri dan keluarga perlu diacu mengikut hukum syarak. Berapa ramai pengantin baru dan ahli keluarga yang menghantar pengantin memberi tumpuan kepada khutbah nikah yang disampaikan jurunikah? 

Sebenarnya inti pati khutbah nikah amat bermakna dijadikan teladan dan sempadan dalam perkahwinan. Walaupun majlis perkahwinan dituntut dalam Islam, apalah gunanya jika wang dihabiskan untuk majlis mewah tetapi apabila hendak memulakan kehidupan seharian, raja sehari terpaksa meminjam dan meminta daripada orang lain. Ini membawa implikasi besar kerana menyara keluarga adalah tanggungjawab suami sepenuhnya. Tiada guna bermegah dengan majlis mewah tetapi perkahwinan tidak dapat bertahan kerana masalah kewangan.

Pengantin juga dinasihatkan mendalami ilmu agama, tanggungjawab dan peranan masing-masing. Kerukunan rumah tangga hendaklah sentiasa disemai dan dibajai supaya mekar dan mencapai matlamat perkahwinan iaitu mawaddah wa rahmah (berkasih sayang).

Memang tidak dinafikan sesebuah rumah tangga mesti diuji, anggaplah ujian sebagai pemangkin menambah kasih sayang antara suami isteri. Oleh itu, ketepikan ego dan dendam bagi memastikan layar bahtera rumah tangga dapat dilayari dengan baik dan terus berkekalan hingga ke Jannah. 

Dengan cara itu, segala masalah rumah tangga dapat diselesaikan dengan baik. Saling maaf-memaafkan penting bagi memastikan kasih sayang sentiasa dipupuk. Penting juga diingatkan kepada pengantin baru bahawa perceraian bukan suatu permainan, Kerana ianya merupakan satu perbuatan yang diharuskan tetapi dibenci oleh Islam.

Seperti pernikahan, perceraian membawa implikasi besar kepada pasangan dan keluarga. Perceraian adalah perkara halal yang amat dibenci Allah. Lafaz talak jangan sekali-kali dibuat mainan kerana walaupun tanpa niat ia mungkin membawa kesan gugurnya talak.

Apatah lagi jika dilafazkan berkali-kali yang mungkin membawa kepada perceraian tidak boleh dirujuk. Apabila perkara itu berlaku, penyesalan tidak bermakna lagi.

Perkara yang sering dilupakan pasangan pengantin ialah belajar ilmu agama walaupun sepatutnya bergelar suami atau isteri persoalan itu tidak perlu diungkit lagi. Namun, sebagai peringatan kita yang sering lupa, suami wajib mengajar sekurang-kurangnya ilmu fardu ain kepada isterinya.

Jika suami tidak mampu mengajar isterinya, hendaklah mencari pengajar. Juga amat baik jika suami meluangkan masa mendalami ilmu agama kerana jika ada masalah dalam keluarga, suami isteri boleh merujuk hakum hakam agama bagi mencari penyelesaian. Risiko perceraian akan dapat dikurangkan. Bagi orang Islam di Malaysia, ada undang-undang khusus berhubung perkahwinan dan perceraian. Undang-undang itu digubal bagi memelihara hak seperti mana dianjurkan Islam. Undang-undang itu dinamakan Akta/Enakmen Undang-Undang Keluarga Islam.

Akta itu digubal dan diluluskan Parlimen dan Dewan Undangan Negeri seluruh negara. Penting bagi suami isteri mengetahui hak dan tanggungjawab mereka mengikut undang-undang.

Undang-undang itu mengawal peraturan dan tatacara sebelum perkahwinan, ketika dalam perkahwinan dan selepas perkahwinan dibubarkan. Ketahuilah hak masing-masing supaya apabila berlaku masalah, mudah mencari jalan penyelesaian atau sekurang-kurangnya bersedia menghadapinya.

Sudah tentu kursus perkahwinan beberapa hari terlalu singkat untuk mendedahkan perkara sebenar kepada pengantin. Kursus itu hanya memberi lontaran idea dan gambaran kasar alam perkahwinan secara teori. Ia tidak mencukupi bagi mengeratkan simpulan ikatan pernikahan antara kedua pasangan.

Sentiasalah berbincang dalam semua perkara walaupun dalam isu dianggap remeh. Hormati pasangan. Semakin hari tanggungjawab semakin berat dan jika kita tidak mendekatkan diri kepada Allah, pasti Allah tidak membantu kita meringankan beban berkenaan.

Jangan akhiri pernikahan yang suci di Mahkamah Syariah atau tempat tidak sepatutnya. Pernikahan yang disulami adat dan ibadat jangan dinodai dengan perceraian. Jika tidak dapat dielakkan, lakukanlah ia dengan penuh hormat dan rasa tanggungjawab.

Artikeli ini juga diharapkan dapat memberi sedikit pedoman buat kita yang sudah bergelar ibubapa untuk tidak meletakkan anak-anak kita yang bakal dan sudah berkahwin dalam keadaan serba salah. Biarlah mereka melayari bahtera perkahwinan mereka tanpa perlu dicampuri urusan mereka. Perlu diingat, antara yang (mungkin bagi sesetengah majlis) telah terlafaz adalah seperti berikut:

“Adalah saya ………………………………wali kepada …………………………dari saat ini menyerahkan tanggungjawab nafkah, pemeliharaan, keselamatan, kasih sayang dan tanggungjawab agama Islam kepada kamu ………………………… sebagai suami yang sah.

Semoga diberkati oleh Allah s.w.t ke atas kamu dan orang yang di bawah tanggungan kamu, serta zuriat keturunan kamu. Amin.’

Diikuti dengan Lafaz Penerimaan Tanggungjawab seperti berikut :

“Dengan ini saya …………………………suami yang sah kepada ……………………… bersyukur kepada Allah s.w.t. di atas anugerah nikmat iman, Islam, kesihatan dan isteri serta berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat bagi menjayakan majils akad nikah ini.

OIeh itu mulai saat ini, saya menerima tanggungjawab sebagal suami kepada isleri saya ……………………………… dan akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjalankan tugas sebagai suami seperti berikut :

·         Memberi nafkah zahir dan batin
·         Pemeliharaan dan perlindungan yang sempurna
·         Keselamatan yang terjamin
·         Memberi bimbingan dan panduan ke jalan yang diredhai oleh Allah s.w.t.

Saya mengharapkan doa restu dari semua pihak terutama kedua ibubapa dan kedua ibubapa mertua saya. Sekian, terima kasih.”

Melainkan pasangan tersebut melanggari hukum dan batas akidah, syariah mahupun insiden-insiden yang bakal meruntuhkan rumahtangga mereka dek pengurusan hal-hal dalaman keluarga kecil mereka, biarlah mereka menguruskan rumahtangga mereka. Biarlah mereka menguruskan anak mereka / cucu anda.

Ketahuilah, antara faktor yang menyebabkan pasangan bercerai yang bukan disebabkan orang luar dan pasangan itu sendiri adalah ibubapa dan mertua yang terlalu mencampuri urusan rumahtangga anak menantu.

Adakah anda sanggup menjadi punca penceraian tersebut semata anak anda perlu memenuhi kehendak anda seorang? Adakah anda sanggup menjadi punca suami gagal menjalankan tanggungjawab terhadap isteri dan anaknya? Adakah anda sanggup menjadi punca isteri gagal menjalankan tanggungjawab kepada suami dan anaknya?

Baca, renungkan dan fikirkan…

Wallahualam…

Sumber: OnDaStreet.
Powered by Blogger.